“Politik adalah panglima!” kata eks tokoh PKI, Njoto. Sejarah mencatat, politik yang keliru bisa membuat sepakbola menjadi muram, bahkan berdarah-darah.

Njoto (1925-1965) dengan lantang menyebut bahwa segala sesuatu terhubung dengan politik. Termasuk sepakbola. Jika kita menengok kembali ke beberapa dasawarsa silam, politik memang kerap kali hadir ke dalam labirin sepakbola.

Pada medio 1950-an, Real Madrid pernah menjadi klub “kesayangan” Jendral Franco demi memuluskan politik diktatorialnya di Spanyol. Silvio Berlusconni tanpa tedeng aling-aling menyatakan bahwa AC Milan memang alat politiknya untuk meraih simpati massa agar terpilih menjadi perdana menteri Italia.

Tendangan Zvonimir Boban ke arah dada polisi Serbia menjadi daya picu meledaknya kemarahan rakyat Kroasia terhadap kesewenang-wenangan Serbia saat Dinamo Zagreb, yang menjadi representasi etnis Kroasia dengan Partizan Beograd yang menjadi klub kebanggaan etnis Serbia, bertarung di kejuaraan Piala Yugoslavia.

Di Indonesia, carut marut sepakbola karena politik juga kerapkali menerpa. Tentu kita semua tahu bagaimana pertikaian antara Nurdin Halid dengan Arifin Panigoro yang sibuk mempolitisasi sepakbola Indonesia hingga meninggalkan kekacauan sampai detik ini. Dan daftar benang merah antara sepakbola dengan politik ini masih bisa diperpanjang lagi hingga berlembar-lembar. Tak usah heran jika sepakbola yang kerap diracuni politik selalu berakhir kelam.

Port Said Stadium, Mesir, Rabu, 1 Februari 2012 yang lalu, 74 orang meninggal dan 1.000 orang lainnya mengalami luka-luka akibat kericuhan antarsuporter seusai pertandingan antara Al Masry melawan Al Ahly. Banyak orang menyangsikan bahwa kericuhan ini murni hanya kericuhan “ideologis” ala fanatisme suporter, tanpa ada latar belakang politik dibaliknya. Dan kesangsian tersebut benar adanya: Ultras Al Ahly ternyata adalah mayoritas yang mendukung pencopotan Presiden Mubarak. Sementara ultras Al Masry sendiri adalah “musuh” politiknya: mereka sekumpulan orang yang menjadi tameng (pendukung) Mubarak.

Sepanjang tahun 2011 otoritas sepakbola Mesir, EFA, mendapat banyak sorotan karena selalu gagal menangani serangkaian insiden di lapangan hijau. Pada bulan April 2011, misalnya, ratusan polisi di Stadion Internasional Kairo tak dapat berkutik tatkala ribuan pendukung Zamalek tumpah ke lapangan saat menjamu klub dari Tunisia, Africain, di Liga Champions Afrika.

Insiden kembali berlanjut di bulan November. Kali ini melibatkan Al Ahly dan Zamalek karena ketika kedua tim bertanding, perang petasan dan kembang api antar kedua suporter mewarnai jalannya pertandingan. Alhasil EFA memberi sangsi terhadap kedua klub untuk bermain di stadion tanpa penonton. Masih di bulan yang sama, Ismaily mendapat sanksi yang sama karena baku hantam saat melawan Al-Ittihad. Juga Al-Masry karena penontonnya melempari lawan dengan botol air minum.

Dan semua konflik perseteruan antarsuporter klub sepakbola di Mesir mencapai klimak yang paling brutal ketika Al Masry menjamu Al Ahly dengan korban tewas hingga mencapai 74 orang. Perdana Menteri Kamal Al Ganzouri sampai-sampai memberi keputusan mengejutkan yang akan dikenang seluruh rakyat Mesir: pembubaran Asosiasi Sepak Bola Mesir (EFA) di bawah kepemimpinan Samir Zaher.

Sepakbola memang kerap menjadi representasi kondisi psikososial masyarakat. Hanya perlu sedikit dorongan, maka kemarahan yang selama ini disimpan akan mencapai titik ledaknya yang paling eksplosif. Masyarakat Kroasia, misalnya, yang telah lama mengeram dendam terhadap Serbia tetap akan meledakkan amarahnya meski ada atau tidak adanya tendangan Boban kearah polisi Serbia.

Rakyat Argentina tetap akan membenci Inggris sekalipun Maradona tidak pernah mempermalukan mereka dengan gol “Tangan Tuhan”-nya karena insiden Malvinas. Dan dendam antisemit sejak Perang Dunia ke-II antara Belanda-Jerman akan kerap mewarnai hari-hari kedua negeri tersebut meski Johan Cruyff dan Franz Beckenbauer tak pernah lahir sebagai “dewa” sepakbola mereka. Dari sana, setiap momen akan menghadirkan simbol yang akan dikenang, dirawat, dan dijadikan teladan yang suci dan nyaris tanpa salah.

Memori tentang sepakbola adalah memori kolektif yang paradoks. Bagi ultras Al Masry dan Al Ahly, pertikaian mereka yang memakan korban sangat banyak bukanlah sebuah soal — meski tidak bisa dipungkiri bahwa sebagian dari mereka mengutuk keras kejadian tersebut –, karena racun politik (negara) telah menjadi tameng mereka. Seperti bagaimana rakyat Catalan — yang pada zaman Franco berkuasa menjadi basis komunis Spanyol –, yang menganggap Real Madrid adalah musuh abadi karena sepakbola telah dijadikan alat politik praktis.

Sepakbola, dalam konteks tersebut, telah “dipaksa” keluar dari habitatnya sebagai sebuah permainan. Bukan lagi soal siapa pencetak gol, tim mana yang menang dan menguasai bola lebih banyak, kenapa pemain A cedera dan sebagainya. Ada semacam pemberhalaan ideologis untuk memberi pasokan kebencian sepanjang hayat dalam konteks sepakbola yang diseraki politik.

Anehnya, pemberhalaan tersebut selalu berada dalam memori kolektif suporter (penonton), bukan di dalam memori pemain (praktisi) yang notabene benar-benar bertarung di atas lapangan. Perjuangan melawan kekalahan, bagi suporter adalah perjuangan melawan lupa. Rakyat Kolombia akan sangat sulit memaafkan kiper mereka di Piala Dunia 1990, Rene Higuita, saat bola yang digiringnya hingga jauh dari gawang berhasil direbut Roger Milla. Dan sebaliknya: rakyat Kamerun seakan tak pernah merasa perlu Christiano Ronaldo karena mereka punya Roger Milla yang membuat dunia tertawa dengan tariannya saat berhasil menjebol gawang Kolombia.

Piala atau sederet prestasi lainnya bukanlah hadir dari logika para suporter. Hal-hal tersebut hadir dalam riak bisnis dan industri yang dikemas sedemikian rupa. Mereka, para suporter, hanya menyoal gairah, kesenangan, adrenalin yang terpompa, lagu-lagu yang dinyanyikan di sudut stadion, bagaimana kemudian sepakbola dapat mempererat mereka dalam keberagaman. Atau dalam kata-kata Socrates, salah satu pesepakbola kenamaan Brazil: “Keindahanlah yang pertama, kemenangan cuma sampingan. Pangkalnya pada kegembiraan.”

Dalam banyak hal, politik memang diperlukan. Akan tetapi, jika politik dipergunakan segelintir orang untuk mengendalikan kesenangan dan gairah orang banyak agar tujuannya tercapai, masih adakah nilai guna politik di sana? Saya kira, pertanyaan ini telah dijawab oleh ultras Al Ahly yang membentangkan spanduk saat pertandingan melawan Al Ahly yang bertuliskan: “Jangan Ajari Kami Cara Mendukung Tim Kami”.

==

* Penulis adalah mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta tingkat akhir dan pecinta sepakbola. Akun twitter: @propaganjen
** Tulisan ini bersifat opini, tidak merupakan dan mencerminkan sikap redaksi.